Thursday, July 9, 2009

Kapan mau Nikah?

Hari-hari ku lewati hanya sendiri tanpa kekasih..
Tapi tetap ku nikmati indahnya hari tanpa tambatan hati.
Aku ingin menjadi setitik awan kecil di langit bersama mentari

Walaupun ku sendiri tapi aku masih ada,
Masih ada cinta di hati
..
(Masih Ada, Ello)

“Sudah tau kan” ungkap seorang teman dalam sebuah pembicaraan singkat di telepon, “akhir pekan ini beliau menikah?” tentang seorang akhwat yang kami kenal lewat salah satu lembaga da’wah. “Oh ya? Subhanallah ya..” Saya sempat terkaget-kaget, kemudian tersadarkan “beliau kan akhwat, memang biasanya lebih cepat kalau dibandingkan dengan ikhwan..” Kalau dihitung-hitung, maka pembicaraan telepon –yang saya anggap sebuah undangan juga- tadi, adalah undangan pernikahan yang ke-enam yang saya terima dalam beberapa waktu terakhir. Beberapa diantaranya adalah kerabat saudara dan sisanya adalah sahabat-sahabat perjuangan di beberapa lembaga da’wah. Akhir pekan ini misalnya -jika ditambah dengan akhwat tadi- maka akan ada tiga walimahan (resepsi pernikahan) yang akan saya hadiri pada hari yang sama.

Dibalik kebahagian yang saya rasakan saat menerima undangan-undangan tersebut, ada juga rasa gundah yang mulai melingkupi hati saya. Tentang pernikahan. Sebuah bentuk ibadah yang begitu indah dan menyenangkan. Setidaknya begitulah pengakuan beberapa sahabat yang sudah melakoninya. Saya tidak mau menulis dan membayangkan lebih jauh tentang hal ini. Karna saya tau, pernikahan bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan biologis dan romantisme ala roman picisan. Terlepas dari segala bentuk kenikmatan yang ditawarkan, pasti ada usaha dan perjuangan untuk meraih dan menjaganya. Apalagi harus bergulat dengan dilema kemandirian ekonomi dan pendidikan. Bersamaan dengan upaya sungguh-sungguh untuk menjaga agar keberkahan pernikahan tak terkotori dengan hal-hal yang melanggar syari’at. Yang perlu dikomunikasikan dengan sangat cantik pada pihak orangtua dan keluarga. Sehingga muncul rasa iri melihat keberanian dan kesungguhan kawan-kawan saya untuk melengkapi separuh agamanya itu.

Saya meyakini bahwa pernikahan adalah bagian dari kehidupan saya. Bagian dari ibadah. Yang perlu dilandasi niat yang benar dan ilmu yang memadai. Sesuatu yang perlu saya siapkan. Yang perlu waktu untuk menyelesaikannya. Saya ingin, saat saya menjalankannya nanti, saya telah mengetahui dan mengerti dengan bagaimana seluk beluknya. Meskipun saya yakin, tak ada yang bisa menandingi kesempatan untuk mengenal sesuatu lebih dalam selain langsung melakukan dan menyelaminya sendiri.

Ingin sekali menjawab pertanyaan retorika baginda rasul, shalallahu’alaihi wassalam “Apa yang menghalangi seorang mukmin untuk mempersunting istri?” kemudian beliau melanjutkan “Mudah-mudahan Allah mengaruniainya keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat la illaha illaLlah.” Kalimat yang sangat mendalam ini saya dapatkan dari Ustadz Mohammad Fauzil Adhim, pakar nikah dan parenting saat membaca karya fenomenalnya, Kupinang Engkau dengan Hamdallah.

Semoga Allah berikan saya kesempatan untuk mengakhiri masa lajang ini dengan berkah. Dan memberikan pernikahan yang berkah suatu saat nanti..Semoga disegerakan, agar saya dapat mendengarnya berkali-kali “Baarakallahu laka, wa baarakallahu ‘alaika, wa jama’a bainakuma fii khaiir..” Amiin.

tak kan mungkin kita bertahan
hidup dalam kesendirian
panas terik hujan badai
kita lalui bersama..
saat hilang arah tujuan
kau tahu kemana berjalan
meski gelap meski terang
kita lalui, bersama..
(Tak Seindah Biasa, Siti Nurhaliza)

5 comments:

Ahmad Zulfahmi said...

Kapan nikahnya Akh Rizqi Andika??;-)

Muhammad Tanri Arrizasyifaa said...

mau sy kasih komen?^^

Sani Rachman said...

ini pasti terinspirasi dengan fajrin?? Ya kan??

amanda ferdina said...

sabar ya ki..

aku dulu ya.. hihi.. :p

insya Allah kita saling membantu mengkomunikasikan ke our big family..amiin..

rihan said...

ups ^^